Hadits Bukhari
Deskripsi Produk
Ebook berjilid (total 7 jilid/pdf) 1000/jilid Biografi singkat Imam Bukhari Imam al-Bukhari adalah pakar hadis paling utama dalam sejarah Islam yang menyusun kitab Sahih al-Bukhari, kitab paling sahih dan rujukan hukum Islam utama setelah Al-Qur'an. Beliau terkenal memiliki ingatan fotografis (sangat kuat) yang luar biasa dan metode penyaringan hadis paling ketat sepanjang sejarah.Profil SingkatNama Lengkap: Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah.Lahir: 13 Syawal tahun 194 Hijriah (810 Masehi) di Bukhara (sekarang wilayah Uzbekistan).Wafat: 1 Syawal tahun 256 Hijriah (870 Masehi) pada usia 62 tahun di Khartank, dekat Samarkand.Gelar: Amirul Mukminin fil Hadits (Pemimpin kaum mukmin dalam hal hadis).Keajaiban Masa Kecil dan KecerdasanSembuh dari Kebutaan: Beliau kehilangan penglihatan saat masih bayi. Ibunya terus berdoa tanpa putus asa hingga akhirnya penglihatan Imam al-Bukhari pulih kembali secara ajaib.Ingatan Fotografis: Beliau mampu menghafal sebuah buku hanya dengan sekali membaca. Di usia 16 tahun, beliau sudah menghafal seluruh kitab hadis karya Ibnu Mubarak dan Waki'.Ujian di Bagdad: Saat mengunjungi kota Bagdad, para ulama menguji beliau dengan menukar 100 sanad (silsilah perawi) dan teks hadis. Imam al-Bukhari mampu mengoreksi dan mengembalikan seluruh 100 hadis tersebut ke pasangan yang benar tanpa salah satu pun.Kitab Sahih al-BukhariProses Penyusunan: Memakan waktu selama 16 tahun.Metode Ketat: Beliau menyaring sekitar 600.000 hadis hingga hanya menyisakan sekitar 7.275 hadis (termasuk pengulangan) di kitabnya.Syarat Mutlak: Beliau menetapkan syarat bahwa perawi hadis tidak hanya harus hidup di zaman yang sama, tetapi harus terbukti pernah bertemu secara fisik.Spiritualitas: Setiap kali akan menuliskan satu hadis ke dalam kitab Sahihnya, beliau selalu mandi dan melakukan salat istikharah dua rakaat untuk memohon petunjuk Allah.Wafatnya BeliauDi akhir hayatnya, beliau mengalami fitnah dan ujian politik dari penguasa lokal di Bukhara yang memintanya datang ke istana untuk mengajar anak-anak gubernur secara eksklusif. Beliau menolak karena menganggap ilmu agama harus mendatangi orang yang butuh, bukan dipanggil ke istana. Akibatnya, beliau diasingkan dan wafat dalam perjalanan di desa Khartank pada malam Idulfitri.